Thermo Converter


A Widgia Widget

3 Tanggapan to “Thermo Converter”

  1. MEIDA WULANDARI Says:

    1. Jelaskan proses penurunan kualitas atau pembusukan pada produk perikanan yang telah Saudara pilih. Penjelasan dipilah berdasarkan kerusakan fisik, kimiawi, atau biologis.
    Kerusakan fisik pada pepes ikan:
    – Uap air yang ada pada pepes mulai keluar dan menumpuk pada pepes
    – Penumpukan uap air mengakibatkan mikroba yang ada pada pepes mulai berkembang biak
    – Kluarnya lendir
    – Warna pepes mulai pudar
    – Adanya bau yang menyengat pada pepes
    Kerusakan kimiawi:
    Proses penguapan, panas tinggi dilewatkan melalui uap-uap air dengan tujuan untuk membunuh mikroba. Uap dilewatkan kepada produk, efeknya daging ikan akan mengalami denaturasi ( perubahan sifat fisik, protein sama tetapi sipat kimiawi berubah). Ikan mudah mengalami kerusakan. Ini karena kandungan air yang tinggi pada ikan dan secara alami ikan. Ikan juga mengandung enzim pengurai protein menjadi isobutilamin, kadaverin dan putresin yang menyebabkan aroma kurang sedap.
    Denaturasi adalah perubahan struktur protein dimana pada keadaan terdenaturasi penuh, hanya struktur primer protein saja yang tersisa, protein tidak lagi memiliki struktur sekunder, tersier dan quarterner. Akan tetapi, belum terjadi pemutusan ikatan peptida pada kondisi terdenaturasi penuh ini. Denaturasi protein yang berlebihan dapat menyebabkan insolubilisasi yang dapat mempengaruhi sifat-sifat fungsional protein yang tergantung pada kelarutannya.
    Dari segi gizi, denaturasi parsial protein sering meningkatkan daya cerna dan ketersediaan biologisnya. Pemanasan yang moderat dengan demikian dapat meningkatkan daya cerna protein tanpa menghasilkan senyawa toksik. Disamping
    itu, dengan pemanasan yang moderat dapat menginaktivasi beberapa enzim seperti protease, lipase, lipoksigenase, amilase, polifenoloksidase dan enzim oksidatif dan hidrolotik lainnya. Jika gagal menginaktivasi enzim-enzim ini maka akan mengakibatkan off-flavour, ketengikan, perubahan tekstur, dan perubahan warna bahan pangan selama penyimpanan. Sebagai contoh, kacang-kacangan kaya enzim lipoksigenase. Selama penghancuran bahan, untuk mengisolasi protein atau lipidnya, dengan adanya oksigen enzim ini bekerja sehingga dihasilkan senyawa hasil oksidasi lipid yang menyebabkan off-flavour. Oleh karena itu, sering dilakukan inaktivasi enzim dengan menggunakan pemanasan sebelum penghancuran. Sebagai tambahan, perlakuan panas yang moderat juga berguna untuk menginaktivasi beberapa faktor aninutrisi seperti enzim antitripsin dan lektin.

    2. Sertakan komposisi kimia dari produk perikanan yang Saudara pilih.
    Bumbu dasar yang digunakan pepes adalah
    – bawang merah,
    – bawang putih,
    – kemiri,
    – cabai,
    – kunyit, sebagai bahan pewarna alami
    – jahe,
    – lengkuas,
    – garam
    – dan gula pasir.
    Kemudian diperkaya dengan berbagai bahan dan rempah-rempahan lain agar menyempurnakan aroma dan cita rasa, yaitu
    – tomat,
    – asam jawa atau belimbing sayur,
    – daun salam, serai,
    – daun bawang, dan
    – daun kemangi.
    Cara mengolah pepes adalah dengan cara mencampur semua bahan, kemudian dibungkus daun pisang, dikukus hingga matang, kemudian dibakar di atas bara untuk mengeluarkan aroma khas yang nyata. Cara memberi bumbu atau marinate bahan pepes ada dua macam. Pertama bumbu dihaluskan kemudian dilumurkan di bahan pepes. Yang kedua bumbu hanya diiris kecil-kecil kemudian dilumurkan ke bahan pepes.
    Menjadi siap saji
    Agar pepes dapat sejajar dengan makanan internasional maka cara menyajikannya harus mendapat sentuhan teknologi sehingga menjadi makanan siap saji (fast food). Salah satu aspek yang mungkin menjadi penting adalah bagaimana cara mengawetkan pepes dengan baik dan sempurna tanpa mengurangi mutu makanan, baik cita rasa, aroma, maupun nilai kandungan zat gizinya.
    Pengawetan pepes dapat dilakukan dengan cara iradiasi. Dengan proses penyinaran nuklir ini, pepes dapat awet selama 1 tahun lebih. Kelebihan dari proses pengawetan ini adalah tidak mengubah kualitas makanan dan tetap aman dikonsumsi.
    Pengawetan pepes dengan cara pengalengan juga merupakan alternatif yang baik. Pengalengan didefinisikan sebagai suatu cara pengawetan bahan pangan yang dipak secara hermetis (kedap terhadap udara, air, mikroba, dan benda asing lainnya) dalam suatu wadah, yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua mikroba patogen (penyebab penyakit) dan pembusuk. Pengalengan secara hermetis memungkinkan makanan dapat terhindar dari kebusukan, perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi, atau perubahan cita rasa.

    Secara umum proses pengalengan ikan dalam skala industri umumnya dilakukan melalui beberapa tahap. Tahapan itu meliputi pemilihan bahan baku, penyiangan, pencucian, persiapan bahan, pencampuran bahan, pengolahan pepes secara tradisional (mungkin dapat dimodifikasi dengan menggunakan peralatan modern), dikeluarkan pepes dari pembungkusnya, dimasukkan ke dalam kaleng, pengisian medium pengalengan (bumbu/rempah-rempah), penghampaan udara, penutupan kaleng, pemasakan (retorting), pendinginan dan pemberian label.
    Keuntungan utama penggunaan kaleng sebagia wadah bahan pangan
    Kaleng dapat menjaga bahan pangan yang ada di dalamnya. Makanan yang ada di dalam wadah yang tertutup secara hermetis dapat dijaga terhadap kontaminasi oleh mikroba, serangga, atau bahan asing lain yang mungkin dapat menyebabkan kebusukan atau penyimpangan penampakan dan cita rasanya. Kaleng dapat juga menjaga bahan pangan terhadap perubahan kadar air yang tidak diinginkan.
    Kaleng dapat menjaga bahan pangan terhadap penyerapan oksigen, gas-gas lain, bau-bauan dan partikel-partikel radioaktif yang terdapat di atmosfer. Untuk bahan pangan berwarna yang peka terhadap reaksi fotokimia, kaleng dapat menjaganya dari cahaya.
    Selain dengan pengalengan, pepes juga dapat diawetkan dengan proses pembekuan cepat (-24 s/d -40 0C) dalam waktu kurang dari 30 menit. Agar kemasan terlihat lebih menarik dan lebih menambah kenyamanan konsumen, maka dapat pula digunakan kemasan sekunder dari plastik. Dengan proses pembekuan ini, pertumbuhan mikroba patogen dapat dihambat. Selian itu reaksi – reaksi kimia yang dapat menyebabkan kebusukan pada pepes juga dapat dihindari. Oleh sebab itu, pemilihan suhu pembekuan harus tepat untuk menghasilkan pepes dengan kualitas yang terjaga. Tidak hanya untuk penyimpanan, selama rantai distribusi juga dibutuhkan suhu beku (18 0C) hingga ke tangan konsumen. Pepes beku yang akan dikonsumsi, perlu di-thawing terlebih dahulu, misalnya dengan pemanasan dalam oven selama beberapa saat.
    Berikut tabel komposisi zat gizi dari beberapa jenis ikan air tawar dan laut.
    Ikan Protein Lemak Kalsium Fosfor Besi
    Kakap 20.0 g 0.7 g 20 mg 200 mg 1.0 mg
    Peda 28.0 g 4.0 g 174 mg 316 mg 3.1 mg
    Teri Kering 33.3 g 2.9 g 1209 mg 1225 mg 3.0 mg
    Bandeng 20.0 g 4.8 g 20 mg 150 mg 2.0 mg
    Ikan Mas 16.0 g 2.0 g 20 mg 150 mg 2.0
    Lele 18.2 g 2.2 g 34 mg 116 mg 0.2 mg
    Kembung 22.0 g 1.0 g 20 mg 200 mg 1.0 mg
    Sumber: Oey Kam Nio. Daftar Analisis Bahan Makanan.1995

    Daftar pustaka
    http://myhobbyblogs.com/food/2008/12/04/ikan-laut-dalam-kaya-akan-asam-lemak-omega-3/
    http://galeriukm.web.id/unit-usaha/makanan/memperluas-pasar-pepes-ikan
    http://blog.unila.ac.id/dendisusilo/2008/05/01/efek-pengolahan-terhadap-zat-gizi-pangan/

  2. Meida Wulandari… Untuk selanjutnya, jawaban Saudara dibuat di teks bersangkutan. Hindari membalas dari teks lain karena dapat mengakibatkan jawaban Saudara tidak terbaca.

  3. alice pngen gituan Says:

    🙂🙂🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: